Bu Guru Een

Berjuang dalam keterbatasan, Bu Guru Een Punya Kelas Belajar di Kamar

Berjuang dalam keterbatasan, Bu Guru Een Punya Kelas Belajar di Kamar

Anak-anak sedang berkonsultasi dengan Ibu Een mengenai pelajaran Sekolah. (doc: Liputan6.com)

Anak-anak sedang berkonsultasi dengan Ibu Een mengenai pelajaran Sekolah. (doc: Liputan6.com)

Meski terbaring dalam kasurnya, Ibu Een Sukaesih (50). Masih tetap memiliki semangat untuk berbagi. Ibu Een Sukaesih berdiam di Dusun Batukarut, RT01 RW06, Desa Cibereum Wetan, Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat. Dalam rumah yang sederhana itu, Ibu Een berbagi dalam keterbatasannya. Ia membantu menyiapkan masa depan orang lain dengan cara membagi ilmu dan kasih sayang, serta menjadi sahabat bagi anak didiknya.

Berteman dengan Penyakit
Ibu Een sudah 32 tahun menderita penyakit Rheumatoid arthritis (RA). Dan penyakitnya itu membuatnya lumpuh selama 26 tahun. Ketika usianya masih 18 tahun, ia mulai sakit-sakitan. Selama enam tahun mengalami sakit, Ibu Een masih bisa berjalan. Namun, sejak 1987, penyakitnya membuatnya lumpuh, sehingga ia hanya dapat terbaring di tempat tidur.

Ibu Een yang merupakan alumni IKIP Bandung (Universitas Pendidikan Indonesia/ UPI) itu tentu saja bersedih. Namun hal itu tidak membuat hidupnya hancur. Ia masih bersyukur dan meneruskan hidup dengan penuh perjuangan.

Selidik punya selidik, ternyata penyakit yang berdiam dalam tubuhnya itu adalah Rheumatoid arthritis (RA). Kesehatan Ibu Een dari hari ke hari bukannya membaik malah memburuk. Secara bertahap penyakitnya berkembang. Dari lengan kiri, ke lengan kanan, beralih ke lutut kiri dan kanan, dan berkembang ke semua sendi dari kepala hingga ujung kaki. Penyakit ini merupakan penyakit autoimun kronis, progresif dan melumpuhkan.

Hilang dan kembalinya Cita-Cita Menjadi Guru
Sejak didiognosa menderita RA sebelum lulus SMA, Ibu Een harus mengucapkan selamat tinggal kepada cita-citanya menjadi guru. Namun, melihat nilai-nila yang mumpuni dan perilaku yang baik, Guru Ibu Een bersikeras supaya Ibu Een mau didaftarkan masuk tes perguruan tinggi. Benar saja, ia lolos dan diterima di Program Diploma 3 Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di IKIP Bandung.

Setelah menjalani masa-masa menjadi mahasiswa IKIP, pada 1985 Ibu Een lulus dengan nilai cukup baik, dan diangkat jadi guru di SMA Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat. Sebelum sempat prajabatan, Ibu Een sudah tak kuasa menahan sakit. Ia pun pulang ke Sumedang. Sejak saat itu Ibu Een Sukaesih lumpuh total. Namun, meski berat, ia menerima kondisi tersebut dengan lapang dada dan tak membiarkan kelumpuhannya menjadi sia-sia. Masih dengan motivasi awal sebagai guru, Ibu Een membuka kelas belajar di kamarnya. Anak-anak dari saudara hingga tetangga sangat antusias untuk mengikuti kelas belajar Ibu Een tersebut. Banyak dari mereka yang mengalami peningkatan nilai baik di kelas, hingga lulus tes masuk perguruan tinggi. Puluhan murid yang belajar di rumah ibu Een tersebut juga tak dipungut biaya.

Hidup Dengan Obat
Penyakit Ibu Een bertambah lagi pada pertengahan Juli tahun 2012. Mata kirinya tiba-tiba sakit. Setelah diperiksa dan diobati, sakitnya agak mendingan. Namun, mata kirinya kini tak bisa melihat lagi. Ibu Een disarankan untuk melakukan operasi mata. Jika korneanya tidak rusak parah, ia masih bisa menerima donor mata. Namun jika rusak parah sudah tidak bisa. Namun, Een menolak untuk melakukan pengobatan.

Sejak penyakit RA berdiam dalam tubuhnya, sejak saat itulah Ibu Een hidup dengan obat. Bahkan dokter memberitahu kalau penyakit yang dideritanya belum diketahui penyebab dan obatnya. Untuk obat-obatan rematiknya, Ibu Een tidak setiap saat meminumnya. Ia baru akan meminumnya jika sakitnya terasa parah. Sedangkan obat yang rutin diminumnya malah obat maag.

Tubuh Ibu Een mungkin sudah lumpuh. Namun, ketika berobat ke dokter penyakit dalam, Ibu Een bersyukur kondisi jantung dan hatinya masih bagus. Sakit yang dialami Ibu Een tak membuatnya patah semangat. Ia bahkan mengimbau teman-temannya yang senasib untuk tetap bersabar. “Bersabar harus dengan bersyukur kita masih diberikan kehidupan. Masih banyak nikmat yang kita terima. Untuk mengantisipasi sakit yang kita derita, alangkah lebih baiknya kita imbangi dengan kegiatan yang positif. Syukur-syukur bermanfaat buat semua orang. Jika tidak, minimal untuk diri sendiri dan keluarga”, ujarnya.

Raih Berbagai Penghargaan
Dalam pengabdiannya untuk pendidikan, Ibu Een Sukaesih menerima berbagai penghargaan, diantaranya: Dompet Dhuafa Award 2010, Education Award dari Bank Syariah Mandiri (BSM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Kartini Award 2012 dan Tupperware She Can! 2013.

Penghargaan-penghargaan ini tentu saja bukan yang Ibu Een cari. Tapi, pemenuhan batin, dan tentu saja kesadaran untuk menunaikan tanggungjawab sosial. Ibu Een merupakan inspirasi pendidik yang tak kenal pamrih dengan segala keterbatasannya.

Masih mau berpangku tangan?

Your email address will not be published.